Jumat, 07 Januari 2011

MENGENAL PENYAKIT KAYU SENGON ( ALBASIA)

Jabon (Anthocephalus cadamba) dan banyak tanaman penghasil kayu lainnya (sengon/albasia, jati dan tanaman kayu keras lainnya) tumbuh pada tanah alluvial lembab di pinggir sungai, dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering, yang kadang-kadang digenangi air. Selain itu, dapat juga tumbuh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung, podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung berbatu yang tidak sarang. Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hujan A dan D, mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl ( dari permukaan laut).

 Usaha budidaya ( agribisnis) kayu jabon (Anthocephalus cadamba) dan kayu  keras lainnya kini banyak dilakukan bagi pemenuhan penyediaan kayu, tanpa lagi harus menebang hutan. Tanaman kayu, seperti umumnya tanaman asal habitat tumbuhnya, hutan, memerlukan kandungan humus maupun pupuk organik kompos. Khususnya saat pembibitan dan  pada media tanam, biji perlu masukan humus (organik) cukup dan demikian saat tahun pertama di kebun, keperluan dosis pupuk tablet Gramalet khusus HTI, hanya 30 gram/ ph/ tahun. Material organik bisa dipenuhi oleh hasil olahan sendiri sementara unsur hara kandungan lengkap bisa diperoleh dari pupuk sintetis, salah satunya tablet Gramalet formula tanaman HTI/Kayu. Itulah yang dibahas Sonson Garsoni,  dalam pertemuan bisnis 'Kayu Jabon dan Pengembangan Organik' di Kadin Prov Riau di Pekanbaru ( 28 Juni 2010), guna membuka cakrawala peluang usaha berbasis pelestarian lingkungan.

Menurut banyak peserta pertemuan bisnis, kayu jabon (Anthocephalus cadamba) dianggap lebih bagus daripada kayu lainnya. Tekstur lebih halus, bentuknya silinder lurus, berwarna putih kekuningan dan tidak berserat, batang mudah dikupas, lebih mudah dikeringkan atapun direkatkan dan tidak cacat. Arah serat terpadu, permukaan kayu mengkilap, kayu jabon juga sudah terbukti keawetannya atau daya tahannya. Kayu jabon menarik karena pasar pembelinya luas antara lain sebagai bahan baku industri kayu lapis, industri mebel, pulp, mainan anak-anak, peti buah, alas sepatu, korek api, tripleks, mebel, bahan bangunan non konstruksi. Kayu jabon juga mudah dibuat vinir dengan sudut kupas 920 ketebalan 1,5 mm.

Kayu jabon, sebenarnya juga tanaman kayu lain (sengon/albasia) diprediksi memiliki prospek yang sama-sama menguntungkan. Sayangnya, sengon (Paraserianthes falcataria), akhir-akhir ini tersudutkan oleh seringnya mengalami serangan penyakit, dikenal masyarakat sebagai karat Puru atau Karat Tumor (gall rust). Penyebab penyakit karat puru pada tanaman sengon laut, yaitu jamur karat (Uromycladium tepperianum (Sace.) McAlp.). Jamur ini bisa berkembang biak hanya dari 1 inang saja, yaitu tanaman sengon laut dalam seluruh siklus hidupnya. Penyakit ini ditunjukan oleh munculnya bintil-bintil kecil di salah satu cabang atau ranting. Serangan penyakit ini sangat mematikan, kalau sudah ada gejala itu, maka potong segera cabang itu, kemudian kuburlah, agar dengan itu tidak menyebar.

Kerugian investor dan petani tanaman kayu diperparah oleh cuaca ekstrim, tingginya intensitas hujan maupun kecepatan angin, menaikan kelembaban dan penyeboran fungi lebih cepat oleh tiupan angin. Penyakit karat puru pada pohon sengon menyerang areal tanaman sengon seluas 150.000 hektare di Jawa Timur dan mengakibatkan potensi kerugian yang sangat besar ( Badan Penelitian dan Pengembangan, Dephut RI, 2010). 
Nilai kerugian akibat serangan penyakit sangat besar karena penyakit itu diperkirakan menjangkiti 59 juta batang pohon sengon. Penyakit karat puru kini mulai menyebar ke seluruh Jawa dan Bali. Dengan asumsi setiap hektare lahan memiliki potensi kayu sengon sebanyak 200-300 meter kubik dengan harga pasaran Rp. 800 ribu hingga Rp. 1,2 juta, maka potensi kerugian akibat serangan penyakit karat puru sedikitnya Rp. 2,4 triliun. 
Dari banyak rekomendasi pemberantasan karat puru ini, salah satunya dalam radiun 100 m2 penyemprotan tanaman sengon dengan campuran kapur dan garam (NaCl) dengan perbandingan 10:1. Kalau pohonnya masih kecil, semprot saja semua batang dan daun sengon itu. Kalau pohonnya sudah terlanjur besar, maka laburlah (dicat) batangnya dan semprot daunnya. Lakukan dua minggu sekali selama 3 bulan untuk meredam penyakit ganas ini. Karat Puru sifat menularnya begitu cepat. bisa melalui angin, tangan maupun serangga. Kalau dibiarkan akan menjadi wabah yang ganas, makanya karat puru mesti segera ditangkal sejak baru muncul gejalanya.
Kiat pemberantasan penyakit karat puru dengan penyemprotan, oleh beberapa kalangan, justru dianggap tidak masuk akal, melawan jamur yang berada tersebar dan pada ketinggian diluar jangkauan larutan garam dan kapur. Namun, beberapa pengalaman petani lain, yang layak dijadikan referensi, guna mencegah dan mengatasi penyakit karat puru tersebut, sejak mulai budidaya, adalah sebagaimana standar prosedur kegiatan sillvikultur antara lain pengaturan jarak tanam, pemupukan yang tepat, pemangkasan, pengendalian gulma secara selektif, menggunakan pola tanam multikultur, yakni:

1. Lakukan sanitasi kebun dengan cara membuang gulma-gulma liar, memangkas pohon yang sudah tidak bernilai ekonomis sehingga, tidak bersaing dalam perolehan hara maupun cahaya matahari. Diketahui, cahaya matahari dengan intensitas tinggi, penting dalam “mematikan” jamur. Guna memperoleh intensitas matahari juga, perhatikan jarak tanam jangan terlalu rapat atau lakukan pemangkasan dahan ranting yang tidak perlu.

2. Pada saat pembuatan lubang tanam, umumnya berukuran (60x60x60) cm, beri pupuk kandungan lengkap (NPK, Magnecium, Ca dan belerang (sulfur), pada komposisi secara berimbang bagi keperluan genetis tanaman kayu, sebagaimana terdapat pada tablet Gramalet  Pada lobang dapat ditambah pupuk kandang atau kompos sekitar 10-20 kg dan semprot dengan mikroorganisme penyubur tanah, seperti aktivator bakteri (Green Phoskko compost aktivator). Kemudian, diamkan sekitar 1 bulan, sehingga pupuk siap diserap akar sengon nantinya. Tanaman sengon dengan cukup nutrisi/ hara akan tumbuh sehat dan relatif tahan terhadap penyakit.

3. Tanam bibit sengon, yang sehat, pada lubang tersebut kemudian timbun dengan tanah. Waktu tanam yang baik, di kala masih banyak hujan. Ada baiknya, sebelum ditanam, bibit disemprot dulu dengan fungisida sistemik untuk pencegahan penyakit.

Rekomendasi diatas kini banyak dilakukan para petani sengon di Ciamis, Tasikmalaya, Cilacap, Boyolali dan banyak daerah pertanaman sengon lainnya dengan hasil menggembirakan. Tanaman, dengan masukan hara lengkap (Nitrogen, Posfor, Kalium, Magnecium, Calcium, Sulfur) dan unsur mikro ( Fe, Zn, Mn, B, Bo, Cl), sebagaimana antaranya terdapat pada tablet Gramalet formula HTI/ Kayu, akan memiliki vigor yang kuat dan berkemampuan menangkal penyakit. Terlebih bentuk tablet, dengan dibenamkan pada 15 hingga 20 cm, ditepi tajuk (canopy), sangat cocok bagi lokasi tanam bagi tanaman kayu, yang umumnya berada di lahan miring. Penguapan dan pencucian oleh air permukaan terhindarkan, unsur hara dalam pupuk dapat diserap sepenuhnya oleh mulut akar tanaman.
Demikian juga halnya sanitasi dan drainase kebun. Kerimbunan daun tanaman kayu, di habitat lembab, memungkinkan berbiaknya mikroba patogen. Kewaspadaan dalam aplikasi pupuk kandang dan kompos, dengan memastikan hanya kompos matang dan bebas dari kandungan mikroba patogen, sangat penting. Upaya penangkalan perkembangan jamur juga dilakukan dengan penyiraman mikroba sahabat manusia (saprofit) seperti aktivator kompos, seperti terdapat dalam aktivator pengurai Green Phoskko. Sanitasi kebun dan kandungan hara lengkap ( khususnya kapur, kalium dan belerang) dari pupuk,  apalagi jika pengelolaan drainase kebun dengan pembuatan lobang pupuk tablet, dirasakan mampu menangkal resiko penyakit tanaman kayu yang sangat merugikan.

Pada kondisi bebas dari serangan penyakit, kedua jenis tanaman kayu ini sama-sama memberikan prospek pendapatan yang tinggi.  Jika 1 pohon ( usia 5 th)= 1 m3, dan kini berharga Rp 1,2 jt, maka proyeksi pendapatan dari penjualan tanaman kayu/ Ha = 500 pohon/ Ha ( jarak tanam 5 x 4) x Rp 1,2 juta, setara 600 jt. Padahal, biaya/ Ha berupa bibit Rp 5000/ ph + biaya perawatan 1 th ke I sekitar Rp 1,3 jt, tidak terbayangkan jika invetasi ratusan Ha. Disamping keuntungan ekonomi, penanaman jabon, sengon/ albasia dan aneka kayu keras lainnya, dari setiap Ha nya sekaligus juga mampu menyumbang oksigen bagi kebutuhan 1000 manusia lain di bumi. Diketahui, 1 pohon memberi oksigen bagi 2 orang manusia. Mengusahakan tanaman kayu jabon dan albasia, suatu peluang agribisnis menarik, sekaligus ikut berperanan dalam mengurangi efek rumah kaca dan pemanasan global*)

5 komentar:

  1. Artikelnya sangat menarik dan informatif.
    Dimana kami bisa membeli tablet tersebut..? (Gramalet dan Green Phosko..?) Dosisnya berapa tablet per pohon..? Dan bagaimana cara memberikannya...? Terimakasih.

    BalasHapus
  2. artikel yg menarik niih,,
    tp saya mau tanya,, utk papan kayu sengon menghindarkan jamur bisa di oles ato direndam pake apa yaaa?
    yg jelas aman untuk produk bok makanan,,
    pernah dengar taradot nggak yaaa?
    mohon infonya ?
    terimakasih,,

    ishaq.nur@gmail.com

    BalasHapus
  3. Pupuk kandungan lengkap bentuk tablet Gramalet dan aktivator Green Phoskko bisa didapatkan info nya di katalog online http://www.kencanaonline.com

    BalasHapus
  4. Pak Ishaq, yang kami lakukan adalah pencegahan dengan kandungan pupuk dalam Gramalet sudah terdapat unsur mikro (Si-Silikat, Mo, dan lainnya) juga unsur hara makro sekunder S (Sulfur).

    BalasHapus
  5. bagaimana cara mengatasi albasia dari penyakit kerab?? mohon penjelasan

    BalasHapus